sarang semut

Sarang Semut (Myrmecodia)

bismillahirohmanirohim,

assalamualaikumwarohmatullahiwabarokatu,

Sarang semut adalah salah satu tumbuhan epyfit yang mana umbinya di huni oleh semut, sehingga diberi nama sarang semut. Sarang semut ditemukan di pedalaman wamena papua pada awal januari 2005.

berikut adalah penampakannya:

Khasiatnya:

1.menyembuhkan berbagai jenis kanker dan tumor.

2.penyakit gangguan jantung, rheumatic, asam urat, sesak nafas (asma), batuk termasuk TBC, menghilangkan aneka benjolan, dalam waktu realtif singkat seperti gondok,farices, dan kanker payudara.

3.gangguan ginjal

4.usus buntu, usus turun (hernia)

5.wasir (ambeien)

6.sangat cocok bagi perempuan yang habis melahirkan

7.menstruasai tidak tepat waktu

8.meningkatkan gairah pria dan wanita

9.diabetes

Cara pakai :

dalam 100gr direbus dengan air 3 liter air sampai mendidih kemudian disaring lalu diminum secara rutin selama sebulan, warna dan rasanya sama dengan teh.

Direbus berualang-ulang sampai airnya bening.

Untuk pencegahan minum 3 gelas sehari

Untuk pengobatan minum 6 gelas sehari

Pemesanan :

081904124388

e-mail:

tn_sukoco@yahoo.co.id

pengiriman

SELAMAT MENCOBA SEMOGA LEKAS SEMBUH, DOA KAMI MENYERTAI ANDA.

kesembuhan hanyalah datang dan atas seijin Allah SWT, sarang semut adalah sebuah perantara dari Allah SWT untuk kesembuhan umat yang sakit.

Terimakasih telah berkenan berkunjung ke lapak kami,

Wassalamualaikumwarohmatullahiwabarokatu.


penguat sinyal sederhana

berikut adalah penguat sinyal yang sangat sederhana,

dengan cara menaruh modem internet di dalam panci, wajan, ato cetakan kue yang dari aluminium.. penulis sendiri telah mencobanya dan telah berhasil, penulis mencoba pake panci aluminium yang biasa buat masak, cukup dengan cara menambah panjang kabel usb ke modem, kemudian letakkan modem di dalam panci aluminium tersebut. penulis yang tadinya hanya dapat sinyal GPRS kini telah mendapatkan sinyal HSDPA. semoga bermanfaat bagi kita semua. SELAMAT MENCOBA..

Memperbaiki Bad Sector Pada Hard Disk

Memperbaiki Bad Sector Pada Hard Disk

Seperti yang telah saya janjikan pada artikel sebelumnya yang berjudul Cek Kondisi Hard Disk, pada artikel ini saya akan mencoba memberikan solusi kepada anda untuk memperbaiki bad sector yang mungkin menimpa hard disk anda.

Namun sebelum saya menjelaskan langkah demi langkah memperbaiki bad sector, sebelumnya perlu anda ketahui bahwa bad sector terbagi menjadi 2 macam, yaitu bad sector secara hardware/fisik/mekanis dan bad sector secara software.

Bad sector secara fisik yaitu kondisi dimana hard disk anda rusak secara fisik, hal ini bisa terjadi karena tergores, kotor karena debu atau mungkin karena terbentur benda keras. Sedangkan bad sector secara software adalah kondisi dimana file system yang ada pada hard disk anda rusak, hal ini umum terjadi karena mati listrik sedangkan hard disk sedang bekerja keras.

Pada artikel ini saya hanya akan membahas bagaimana memperbaiki hard disk yang terkena bad sector secara software, bukan secara hardware, pasalnya bad sector secara hardware hampir tidak bisa diperbaiki. Jika dari anda ada yang belum mengetahui bagaimana caranya memeriksa kondisi hard disk, silahkan baca artikel saya sebelumnya yang berjudul Cek Kondisi Hard Disk.

Sebelum anda melakukan cara-cara di bawah ini, pastikan data yang ada pada hard disk yang terkena bad sector sudah di backup di media lain misal hard disk eksternal, DVD atau media lainnya yang bisa menampung seluruh data yang ada pada hard disk anda.

Dalam usaha memperbaiki hard disk yang terkena bad sector ini, saya akan memberikan 3 alternatif cara  yang bisa anda pilih yaitu menggunakan software bawaan dari vendor hard disk, menggunakan software EASEUS Partition Master dan yang terakhir menggunakan software HDD Low Level Format Tool (seluruh software yang ada pada artikel ini bisa anda download pada link dibagian akhir artikel ini).

  1. Menggunakan Software Bawaan Vendor Hard Disk

    Untuk memberikan kepuasan kepada konsumen atau penggunanya, vendor hard disk biasanya memberikan software yang dapat anda gunakan untuk menganalisa atau memperbaiki hard disk. Jika hard disk anda bermerek Seagate, anda bisa menggunakan Seatools for Window atau Seatools for DOS (untuk pengguna yang masih awam seperti saya, saya menyarankan untuk menggunakan yang versi for windows). 

    Untuk anda yang menggunakan hard disk bermerek Western Digital anda bisa menggunakan tools “Western Digital Lifeguard Diagnostics”. Pada tools Western Digital Lifeguard Diagnostic terdapat fasilitas Write Zero yang berfungsi untuk memperbaiki hard disk seperti bad sector. 

    Untuk anda yang menggunakan merek lain selain yang telah saya sebutkan di atas, silahkan kunjungi official website vendor hard disk anda.

  2. Menggunakan Software EASEUS Partition Master

    Selain fungsinya sebagai software yang dapat memudahkan anda dalam mengelola partisi hard disk, EASEUS Partition Master juga dapat anda gunakan untuk memperbaiki hard disk yang terkena bad sector dan berikut ini langkah-langkahnya:

    • Jalankan EASEUS Partition Master (yang belum memiliki programnya, anda dapat mendownload pada link di bawah artikel)
    • Lakukan scanning terhadap partisi yang ada pada hard disk untuk mengetahui letak dari bad sector. Untuk melakukan scanning, klik kanan pada suatu partisi » Advance » Check Partition
    • Setelah anda mengetahui letak partisi yang terkena bad sector, klik kanan partisi tersebut dan pilih delete. Pada menu selanjutnya pilih “Delete Partition and Destroy Data” dan klik OK
    • Pada bagian atas software EASEUS Partition Master, klik Apply untuk menjalankan proses pendeletan dan tunggu hingga proses selesai
  3. Memperbaiki Bad Sector Menggunakan HDD Low Level Format Tool

    Sesuai dengan namanya, HDD Low Level Format Tool akan melakukan format terhadap hard disk secara mendalam. Perlu anda ketahui bahwa melakukan format secara low level berarti anda akan memformat seluruh hard disk, dengan begitu, semua data pada hard disk anda akan hilang secara permanen alias tidak bisa direcover lagi. Namun justru ini yang menurut sata lebih efektif ketimbang menggunakan 2 cara sebelumnya.

    Seperti yang telah saya katakan di atas, bahwa pada langkah ini anda akan melakukan formatting terhadap 1 hard disk bukan suatu partisi, untuk itu, untuk melakukan formatting anda harus melakukannya di komputer lain.

    Berikut langah demi langkah melakukan formatting terhadap hard disk anda menggnakan HDD Low Level Format Tool:

    • Jalankan software HDD Low Level Format Tool yang sebelumnya harus terinstall terlebih dahulu di komputer anda
    • Pilih hard disk yang hendak anda format (bukan hard disk yang berisi system operasi) lanjutkan dengan klik continue
    • Pilih tab LOW LEVEL FORMAT pada bagian atas, jika anda sudah yakin, klik FORMAT THIS DEVICE dan tunggu hingga proses selesai

 
Sekarang, cek hard disk anda menggunakan software EASEUS Partition Master seperti pada langkah 2, jika hard disk anda sudah tidak menunjukkan ada error bad sector, berarti hard disk anda sudah sehat kembali. Saatnya anda pasang kembali ke komputer aslinya dan silahkan di install system operasi kesayangan anda.

Merasa artikel ini bermanfaat? jangan lupa untuk berlangganane artikel bermanfaat lainnya ke email anda dengan memasukkan alamat email pada isian di bawah. Untuk anda yang ingin menyumbangkan sedikit uang anda, anda bisa mendonasikannya untuk kemajuan Software Magazine.

Download HDD Low Level Format Tool
Download EASEUS Partition Master

Artikel Memperbaiki Bad Sector Pada Hard Disk ini pertama kali ditulis oleh Drajat A Ghozali di blog Majalah Komputer Online. Artikel ini bebas untuk didistribusikan ulang untuk kepentingan non komersial selama mencantumkan nama penulis dan sumber artikel serta tidak mengubah isi.

carvil

STANDART_LOGO_SgCRIPT
carvil tetap yang terbaik…
choice-03

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS BUDAYA (STUDI KASUS: PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS BUDAYA BALI)

PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS BUDAYA (STUDI KASUS: PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERBASIS BUDAYA BALI)
Jero Budi Darmayasa, dkk.

PENDAHULUAN
Mempelajari matematika sebenarnya adalah mempelajari ide-ide atau konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis. Menanamkan ide atau konsep yang abstrak ini merupakan persoalan yang tidak mudah dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar jika tidak diimbangi dengan metode dan pendekatan mengajar yang tepat dan disesuaikan dengan kemampuan kognitif siswa. Disinilah dituntut kemampuan guru dalam memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang ada dalam upaya peningkatan penguasaan konsep-konsep matematika. Untuk itu, strategi pembelajaran matematika di kelas pun seharusnya dimodifikasi agar siswa sebagai generasi penerus memiliki kemampuan matematika yang lebih tinggi, baik dalam pemahaman maupun kemampuan komunikasi matematikanya. Strategi dalam kaitannya dengan pembelajaran (matematika) yang dimaksud adalah siasat atau kiat yang sengaja direncanakan oleh guru berkenaan dengan segala persiapan pembelajaran matematika di kelas (Suherman, 2003)
Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam meningkatkan motivasi belajar matematika siswa adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa, lingkungan kelas, lingkungan sekolah, dan budaya dimana sekolah tersebut berada. Salah satunya model kooperatif dengan strategi pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) yang pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara, dan menulis (dalam Ansari, 2003) akan sesuai dengan salah satu budaya masyarakat Bali yang dikenal dengan Tri Kaya Parisudha (berbuat yang baik, berkata yang baik, dan berfikir yang baik). Hal ini pasti bisa dilakukan dimanapun matematika itu diajarkan karena terdapat banyak model dan pendekatan pembelajaran yang bisa dipilih oleh guru dan setiap daerah memiliki budaya tersendiri yang tentunya selalu dipertahankan.
Dengan memperhatikan kenyataan tersebut, penulis merasa tertarik untuk meneliti suatu ide tentang pembelajaran matematika yang berbasis Budaya dengan judul ”Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya (Studi Kasus: Pembelajaran Matematika Berbasis Budaya Bali)”, yaitu penerapan strategi pembelajaran TTW yang mengadopsi ajaran Tri Kaya Parisudha, dimana penulis mengambil kasus pembelajaran matematika di Bali dengan tempat penelitian di kelas VII B SMP Negeri 6 Singaraja. Adapun permasalahan yang ditemui di lapangan selama observasi yaitu: (1) kurangnya variasi yang dilakukan guru dalam proses belajar mengajar, (2) dalam proses belajar mengajar, transfer pengetahuan sebagian besar masih bersifat satu arah yaitu dari guru ke siswa, (3) hanya sebagaian kecil siswa yang mampu menyampaikan gagasan/pendapatnya dengan baik dan benar, (4) siswa yang tidak mengerti cenderung menunjukkan prilaku yang tidak sopan dan mengganggu temannya sehingga tidak jarang guru membentak-bentak di dalam kelas.
Sebuah permasalahan yang dapat dirumuskan terkait dengan latar belakang di atas yang akan dicari solusinya, yaitu apakah pembelajaran matematika berbasis budaya Bali mampu meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 6 Singaraja tahun ajaran 2006/2007? Adapun tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa kelas VII B SMP Negeri 6 Singaraja tahun ajaran 2006/2007. Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini yaitu guru matematika dapat memvariasikan proses belajar mengajar sehari-hari sehingga bisa memberikan suasana baru bagi siswa dan mencegah rasa bosan pada siswa, siswa mendapat suasana belajar yang dekat dengan apa yang dilaksanakan dalam aktivitas sehari-harinya (budaya), peneliti lebih memahami tentang pembelajaran matematika yang mengadopsi salah satu budaya yang berkembang dan dipertahankan di Bali yaitu Tri Kaya Parisudha.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang mengambil tempat penelitian di SMP Negeri 6 Singaraja. Subjek penelitian adalah kelas VII B tahun ajaran 2006/2007 dengan banyak siswa 35 orang. Objek dalam penelitian ini meliputi motivasi dan prestasi belajar matematika siswa.
Prosedur penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus dimana pada setiap siklus dilaksanakan empat tahapan yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Perencanaan tindakan meliputi penyiapan alat dan bahan penelitian serta instrumen penelitian. Alat dan bahan yang dibuat dalam tahap perencanaan ini meliputi alat bantu diskusi dari transparan dan model dari kertas karton yang akan digunakan oleh siswa setelah tahap Talk yang berfungsi untuk meyakinkan bahwa hasil diskusi mereka benar. Kegiatan siswa menggunakan alat bantu tersebut merupakan pengembangan strategi TTW yang mengadopsi ajaran Tri Kaya Parisudha yaitu bagian Kayika Parisudha (berbuat yang baik). Tahap pelaksanaan tindakan terdiri dari tiga kali pertemuan dikelas, dimana pertemuan pertama dan kedua digunakan untuk penyampaian materi pelajaran, sedangkan pada pertemuan ketiga dilakukan tes prestasi belajar dan penyebaran angket motivasi belajar. Tahap observasi/evaluasi juga dilaksanakan pada pertemuan ketiga. Pada tahapan terakhir dilakukan refleksi terhadap data yang diperoleh dari hasil observasi/evaluasi. Hasil refleksi ini digunakan sebagai dasar memperbaiki dan menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus selanjutnya.
Data motivasi belajar siswa dikumpulkan melalui angket motivasi yang dibuat dengan skala Likert. Data motivasi belajar siswa dianalisis secara deskriptif berdasarkan skor rata-rata ( ), mean Ideal (MI), dan standar deviasi ideal (SDI).

Sementara data tentang prestasi belajar matematika siswa yang meliputi skor rata-rata prestasi belajar siswa ( ), Daya Serap (DS), dan Ketuntasan Belajar (KB) dikumpulkan dengan menggunakan tes prestasi belajar dalam bentuk uraian

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data, pelaksanaan tindakan pada siklus I cukup memotivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata skor motivasi belajar siswa yaitu 6,41 yang tergolong cukup aktif. Nilai rata-rata prestasi belajar matematika siswa ( ) sebesar 6,51 dengan daya serap sebesar 65,1 % dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal (KB) sebesar 57 %. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, rata-rata prestasi belajar matematika siswa dan daya serap sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan namun masih belum memuaskan, ketuntasan belajar siswa secara klasikal belum memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam penelitian ini. Dalam pelaksanaan pembelajaran siklus I beberapa kendala muncul seperti: (1) kurang antusiasnya siswa dalam diskusi kelompok karena siswa belum terbiasa dalam melaksanakan diskusi kelompok, banyak siswa yang masih enggan untuk bertanya kepada siswa yang lebih mampu tentang hal yang kurang dipahami. Untuk mengatasi permasalahan ini peneliti memberikan dorongan kepada siswa yang sudah paham tentang materi yang diajarkan untuk menjelaskan kepada temannya; (2) siswa masih kurang terbiasa untuk membaca bahan ajar secara mandiri dan siswa belum terbiasa membaca petunjuk penggunaan media sebagai sumber belajar sehingga siswa kurang mengaitkan materi yang akan dibahas dengan konsep yang telah diketahui oleh siswa. Masalah ini ditindaklanjuti dengan meminta siswa untuk membaca bahan ajar dengan serius dan meminta siswa untuk mempelajari materi-materi yang berkaitan dengan materi tersebut sehingga siswa lebih mudah menemukan konsep yang akan dipelajari; (3) siswa masih enggan untuk menyampaikan kesimpulan dan menuliskannya secara mandiri. Untuk mengatasi kendala ini, guru menunjuk siswa secara acak untuk menyimpulkan materi yang sudah dibahas dan memberikan kesempatan kepada siswa lain untuk menanggapi kesimpulan yang dibuat oleh temannya, kemudian guru memberikan penegasan.
Pada siklus II, yang merupakan perbaikan tindakan pada siklus I ternyata memberikan dampak positif pada peningkatan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa. Rata-rata skor motivasi belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 4,68 dari 37,94 pada siklus I menjadi 42,63 pada siklus II. Rata-rata kelas pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 0,35 yaitu dari 6,51 pada siklus I menjadi 6,86 pada siklus II. Sedangkan daya serap siswa (DS) pada siklus II adalah 68,6 % atau mengalami peningkatan sebesar 3,5 % dari siklus I. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 8,7 % yaitu dari 57 % pada siklus I menjadi 65,7 % pada siklus II. Berdasarkan dari rata-rata tersebut, rata-rata prestasi belajar matematika siswa dan daya serap sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan namun masih bisa ditingkatkan. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal belum memenuhi target penelitian ini yaitu ketuntasan belajar siswa secara klasikal minimal 85 %. Meninjau hasil refleksi pada siklus II, masih terlihat adanya beberapa kendala sebagai berikut: (1) masih ada siswa yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas kelompok dan mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada siswa yang lain. Untuk mengatasi kendala ini peneliti menunjuk salah satu wakil kelompok secara acak untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan menjelaskan kepada teman-temannya yang lain; (2) masih ada siswa yang enggan dalam mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi jawaban temannya dalam proses pembelajaran dan hanya didominasi oleh siswa yang memiliki kemampuan tinggi. Untuk mengatasi kendala tersebut, peneliti senantiasa memberikan pujian/penguatan apabila siswa dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Selain itu, peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dan menanggapi pendapat temannya dengan memberikan tambahan nilai. Hal lain yang peneliti lakukan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran
Pelaksanaan tindakan pada siklus III, yang merupakan penyempurnaan tindakan pada siklus II, ternyata berdampak positif pada peningkatan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa. Rata-rata skor motivasi belajar siswa mengalami peningkatan sebesar 5,4 dari 42,63 pada siklus II menjadi 48,03 pada siklus III. Rata-rata skor prestasi belajar matematika siswa pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 0,43 yaitu dari 6,93 pada siklus II menjadi 7,36 pada siklus III. Sedangkan daya serap siswa (DS) sebesar 73,6 % atau mengalami peningkatan sebesar 4,3 % dari siklus II. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal mengalami peningkatan sebesar 50 % yaitu dari 65,7 % pada siklus II menjadi 85,7 % pada siklus III. Secara umum, pada pelaksanaan siklus III tidak lagi muncul kendala-kendala yang muncul pada siklus sebelumnya. Siswa sudah antusias dalam mengikuti pembelajaran yang dilakukan, sudah berani mengajukan pertanyaan, mengemukakan pendapat dan menanggapi pendapat temannya.
Dari hasil yang diperoleh pada siklus III, terlihat bahwa rata-rata skor tes prestasi belajar, daya serap dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal sudah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika berbasis budaya Bali dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar matematika siswa.

KESIMPULAN
Dari uraian dan penjelasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Penerapan pembelajaran matematika berbasis budaya Bali dapat meningkatkan motivasi belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Negeri 6 Singaraja. Pada siklus I motivasi belajar matematika siswa adalah cukup dengan rata-rata skor 37,94. Pada siklus II skor rata-rata motivasi belajar matematika siswa meningkat sebesar 4,6 menjadi 42,63 dengan kategori baik. Kemudian, pada siklus III skor rata-rata motivasi belajar matematika siswa meningkat sebesar 5,4 menjadi 48,63 dengan kategori sangat baik.
2. Penerapan pembelajaran matematika berbasis budaya Bali dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Negeri 6 Singaraja Tahun Ajaran 2006/2007. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata kelas, daya serap dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada siklus I dengan rata-rata kelas sebesar 6,51, daya serap 65,1 % dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal sebesar 57 %. Pada siklus II rata-rata kelas meningkat sebesar 0,42 menjadi 6,93, daya serap meningkat sebesar 4,2 % dan ketuntasan belajar siswa meningkat sebesar 8,7 % menjadi 65,7 %. Setelah siklus III rata-rata kelas meningkat sebesar 0,43 menjadi 7,36, daya serap meningkat sebesar 4,3 % dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal meningkat sebesar 20 % menjadi 85,7 %.

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, Bansu Irianto. (2003). Pengaruh Pembelajaran dengan Strategi Think-Talk Write dalam Upaya Menumbuh Kembangkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa SMU, Disampaikan dalam The 6thJICA-IMSTEP National Seminar, August 25, 2003.

Depdiknas.(2003). Kegiatan Belajar mengajar yang Efektif, Jakarta, Puskur
Nurkancana, Wayan & Sunartana. (1990). Evaluasi Hasil Belajar, Surabaya, Penerbit Usaha Nasional.

Nur, M. (2001). Pemotivasian Siswa untuk Belajar, Surabaya, Pusat Study Matematika dan IPA sekolah Universitas Negeri Surabaya.

Roestiyah, N. K. (2001). Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Renika Cipta
Russeffendi. (1988). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika, Jakarta, Dirjen Dikti.
Santyasa, Wayan. (2004). Penerapan Model ICI dalam Pembelajaran Fisiska Sebagai Upaya Perbaikan Miskonsepsi, Pemahaman Konsep, dan Hasil Belajar Siswa Kelas I SMU N 1 Singarajaa pada Semester I Tahun 2004/2005, Laporan Penelitian (tidak diterbitkan).

Sardiman,A.M. (2005). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.

Suyati, M. Khafid. (2002). Pelajaran Matematika untuk Sekolah Dasar Kelas V, Jakarta, Erlangga.

Suherman, H. Erman, dkk. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, Bandung, JICA-IMSTEP.

Suranada, Gede. (2004). Hubungan Antara Kecerdasan, Motivasi Belajar dan Lingkungan Keluarga Dengan Prestasi Belajar Sosiologi Pada Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri di Singaraja, Tesis Program Pasca Sarjana IKIP Negeri Singaraja.

Tiga Kecerdasan Menuju Karakter Anak Yang Kuat (Studi Kasus Pembelajaran Di SD Islam Istiqomah, Ungaran, Semarang)

1. Intelligence Quotient
Dalam mencapai kesempurnaan di ketiga aspek tersebut, sekolah menerapkan beberapa strategi. Untuk mencapai kesempurnaan di didang intelligence, sekolah memberikan kegiatan pembelajaran yang aktif, memungkinkan anak untuk mengembangkan ide dan pikiran mereka. Namun 90 % teknik yang dipergunakan untuk masih dengan teknik ceramah. Tututan orang tua yang menginginkan anak-anak mereka memiliki nilai tinggi, pembelajaran di Istiqomah pun tidak berbeda dengan sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta yang lain. Sekolah memberikan materi pelajaran dengan intensif, apalagi pembelajaran di kelas VI. Materi yang diberikan adalah materi-materi yang bersifat pengulangan (drill). Dalam hal ini, intelligence quotient merupakan salah satu manefestasi dari olah tubuh anak.
Olah tubuh fisik diberikan melalui beberapa ekstra kurikuler di bidang olah raga. Anak-anak dengan kelebihan di bidang olah raga dibimbing dan dituntun sehingga mampu mengenali kemampuan yang sebenarnya.

2. Spiritual Quotient
Kecerdasaan yang menjadi sangat penting juga adalah spiritual. Spirtual menjadi urgent dalam kaitannya membentuk kepribadiaan anak. Kecerdasan spiritual menjadi dasar dari kecerdasaan emosi dan intelegensi. Kecerdasaan ini memberikan ruang kepada anak untuk mengamalkan agama Islam dengan penuh kesadaran. Untuk mecapainya, sekolah mencantumkan mata pelajaran fiqih dalam kurikulum sekolah. Mata pelajaran ini diberikan pada saat anak berada di kelas 1. Fiqih lebih banyak memberikan anak sesuatu yang sifatnya pembiasaan, seperti bagaimana memperlakukan adik ataupun kakak kelas, bagaimana etika keluar dari ruang kelas, dsb. Beberapa aturan tertulis dibuat dan diperlakukan basi semua penghuni sekolah tanpa kecuali. Diharapkan, aturan-aturan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan budaya yang baik bagi anak. Fiqih yang disampaikan kepada anak, bukan lah pelajaran yang teksbook namun lebih bersifat praktikal. Pelajaran yang harus diamalkan dan bukan dihafalkan. Anak diajari bagaimana shalat jenazah sejak kecil dan diharapkan akan mampu melakukan sendiri ketika lulus dari sekolah.

Kecerdasaan spiritual yang diberikan untuk pengembangan roh anak. Roh tidak berkembang dan bersifat statis namun perlu dijaga dan dipelihara agar tetap pada jalannya.

3. Emosional Quotient
Kecerdasan yang ketiga adalah kecerdasan yang disebut dengan budi pekerti. Kecerdasan ini membentuk anak dengan pribadi yang luhur, mampu menghargai sesama, dapat berkerja di masyarakat, dll. Budi pekerti disampaikan dengan kondisi pembelajaran yang santai dan menyenangkan. Pembelajaran ini lebih banyak memberikan ruang antara anak dan guru untuk melakukan sharing (tukar informasi). Dengan memberikan cerita-cerita contoh ketauladanan nabi, anak-anak diajak berfikir serta bertingkah laku sebagaimana telah nabi lakukan. Begitu pula dengan ketauladanan pendidik. Pendidik memberikan contoh-contoh positif sehingga mampu menarik anak untuk melakukan hal yang serupa dengan apa yang pendidik mereka lakukan. Tidak ada evaluasi dalam mata pelajaran ini. Hal tersebut dilakukan untuk menjadikan budi pekerti bukanlah sesuatu yang memberatkan namun merupakan sesuatu yang harus dijalankan. Untuk mengevaluasi apakah anak tersebut telah memiliki budi pekerti (aqidah akhlak) telah mendarah di dalam anak didik, pihak sekolah memberikan sebuah tes ringan tentang kebiasaan anak dimana pun berada. Dengan demikian, pembelajaran ini lebih bersifat pada penanaman konsep budi pekerti. Anak tidak saja tahu bagaimana budi pekerti yang baik namun juga bagaimana mengamalkannya.

Jiwa anak menjadi fokus untuk pengembangan kecerdasan emosi. Anak secara kejiwaan diberikan stimulus-stimulus yang positif sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk persaingan global.

diambil dari sini

PEMILU 2009

KPU Tetapkan Jadwal Kampanye
Senin, 16 Februari 2009
Jakarta, kpu.go.id Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan pedoman jadwal kampanye Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Anggota Dewan Perwakilan Daerah, dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam bentuk rapat umum. Melalui Keputusan KPU Nomor 115/SK/KPU/Tahun 2009.

Sesuai dengan Jadwal yang yang telah ditetapkan, rapat umum tersebut akan berlangsung selama 21 hari, dimulai pada tanggal 16 Maret sampai 5 April 2009, berdasarkan jadwal tersebut hari pertama akan diadakan pencanangan Kampanye damai.

Dalam keputusan tersebut diatur 4 Parpol akan berkampanye setiap hari secara serentak di seluruh provinsi. Dalam rapat umum Parpol peserta pemilu dapat menyampaikan visi, misi, serta programnya secara terbuka di depan massa.

Khusus di Provinsi Bali jumlah Parpol yang akan berkampanye terdiri 5 sampai dengan 6 Parpol, hal itu disebabkan ada tujuh hari libur keagaamaan setiap harinya disesuaikan karena di Bali ada tujuh hari libur keagamaan.

Sedangan untuk untuk Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam peserta kampanye ditambah dengan 6 partai lokal.
sumber KPU