Tiga Kecerdasan Menuju Karakter Anak Yang Kuat (Studi Kasus Pembelajaran Di SD Islam Istiqomah, Ungaran, Semarang)

1. Intelligence Quotient
Dalam mencapai kesempurnaan di ketiga aspek tersebut, sekolah menerapkan beberapa strategi. Untuk mencapai kesempurnaan di didang intelligence, sekolah memberikan kegiatan pembelajaran yang aktif, memungkinkan anak untuk mengembangkan ide dan pikiran mereka. Namun 90 % teknik yang dipergunakan untuk masih dengan teknik ceramah. Tututan orang tua yang menginginkan anak-anak mereka memiliki nilai tinggi, pembelajaran di Istiqomah pun tidak berbeda dengan sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta yang lain. Sekolah memberikan materi pelajaran dengan intensif, apalagi pembelajaran di kelas VI. Materi yang diberikan adalah materi-materi yang bersifat pengulangan (drill). Dalam hal ini, intelligence quotient merupakan salah satu manefestasi dari olah tubuh anak.
Olah tubuh fisik diberikan melalui beberapa ekstra kurikuler di bidang olah raga. Anak-anak dengan kelebihan di bidang olah raga dibimbing dan dituntun sehingga mampu mengenali kemampuan yang sebenarnya.

2. Spiritual Quotient
Kecerdasaan yang menjadi sangat penting juga adalah spiritual. Spirtual menjadi urgent dalam kaitannya membentuk kepribadiaan anak. Kecerdasan spiritual menjadi dasar dari kecerdasaan emosi dan intelegensi. Kecerdasaan ini memberikan ruang kepada anak untuk mengamalkan agama Islam dengan penuh kesadaran. Untuk mecapainya, sekolah mencantumkan mata pelajaran fiqih dalam kurikulum sekolah. Mata pelajaran ini diberikan pada saat anak berada di kelas 1. Fiqih lebih banyak memberikan anak sesuatu yang sifatnya pembiasaan, seperti bagaimana memperlakukan adik ataupun kakak kelas, bagaimana etika keluar dari ruang kelas, dsb. Beberapa aturan tertulis dibuat dan diperlakukan basi semua penghuni sekolah tanpa kecuali. Diharapkan, aturan-aturan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan budaya yang baik bagi anak. Fiqih yang disampaikan kepada anak, bukan lah pelajaran yang teksbook namun lebih bersifat praktikal. Pelajaran yang harus diamalkan dan bukan dihafalkan. Anak diajari bagaimana shalat jenazah sejak kecil dan diharapkan akan mampu melakukan sendiri ketika lulus dari sekolah.

Kecerdasaan spiritual yang diberikan untuk pengembangan roh anak. Roh tidak berkembang dan bersifat statis namun perlu dijaga dan dipelihara agar tetap pada jalannya.

3. Emosional Quotient
Kecerdasan yang ketiga adalah kecerdasan yang disebut dengan budi pekerti. Kecerdasan ini membentuk anak dengan pribadi yang luhur, mampu menghargai sesama, dapat berkerja di masyarakat, dll. Budi pekerti disampaikan dengan kondisi pembelajaran yang santai dan menyenangkan. Pembelajaran ini lebih banyak memberikan ruang antara anak dan guru untuk melakukan sharing (tukar informasi). Dengan memberikan cerita-cerita contoh ketauladanan nabi, anak-anak diajak berfikir serta bertingkah laku sebagaimana telah nabi lakukan. Begitu pula dengan ketauladanan pendidik. Pendidik memberikan contoh-contoh positif sehingga mampu menarik anak untuk melakukan hal yang serupa dengan apa yang pendidik mereka lakukan. Tidak ada evaluasi dalam mata pelajaran ini. Hal tersebut dilakukan untuk menjadikan budi pekerti bukanlah sesuatu yang memberatkan namun merupakan sesuatu yang harus dijalankan. Untuk mengevaluasi apakah anak tersebut telah memiliki budi pekerti (aqidah akhlak) telah mendarah di dalam anak didik, pihak sekolah memberikan sebuah tes ringan tentang kebiasaan anak dimana pun berada. Dengan demikian, pembelajaran ini lebih bersifat pada penanaman konsep budi pekerti. Anak tidak saja tahu bagaimana budi pekerti yang baik namun juga bagaimana mengamalkannya.

Jiwa anak menjadi fokus untuk pengembangan kecerdasan emosi. Anak secara kejiwaan diberikan stimulus-stimulus yang positif sehingga menjadi pribadi yang tangguh dan siap untuk persaingan global.

diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: